BLOG UNTUK BELAJAR
>> Selasa, 10 Maret 2009
BLOG UNTUK UJI COBA DAN BELAJAR
Read more...BATAS KERINDUAN
>> Selasa, 03 Maret 2009
Andai
Belum tiba kerelaanmu kepadaku
Maka relakanlah aku
Melapas segala tentangmu
Biar..
Biarlah kulanjutkan hidupku
Tanpa sedikit angan tentangmu
Walau kuharus bertaruh qolbu
Selamat tinggal…
Bila sikapmu masih bimbangkan aku
Selamat datang…
Bila kau t’lah rela kepadaku
Dan mungkin bila
Tuhan t’lah gariskan kita
Dalam bait-bait cerita
Semoga kita tetap bersama
Dan mungkin bila
Tuhanpun tak relakan kita
Biarkan kurajut benang hidupku
Tanpa cerita, tentang kau dan aku
Kumohon, atas nama ketulusan cinta
Jangan perlakukan aku seperti ini
Tak kuasa dalam kebimbangan asa
Terpuruk dalam sikap tak pasti
Aku hanyalah manusia
Dengan jiwa yang mudah terluka
Bila terbersit sebuah nama
… yang pernah ada diantara kita
Kumohon… begitu lama dalam penantian
Atas nama ketulusan cinta
Berikan aku sebuah jawaban
Yakinkan aku, dengan sebuah kata
* engkau kupilih bukan dengan menutup mata.
HAYATI DAN RASAKAN
>> Selasa, 17 Februari 2009
Jangan pernah kau bersedih
Jangan ada hati yang pedih
Hanya karena telah tiba waktuku
Dan tak perlu berharu biru
Tengoklah sebentar kearah sana
Lihatlah panjang jejak kita
Ingatlah selalu kenangan berdua
Abadikan saat terbaik kita
Sebelum aku benar-benar berlalu
Sebelum akhir nafas hidupku
Berjanjilah untuk selalu bahagia
Tak perlu sesali perpisahan kita
Tak perlu kau berharu biru
Karena akan kehilangan aku
Dan bila engkaupun rindu
Aku kan hadir dalam kenanganmu
Sebelum ruhku pulang kepada-Nya
Berjanjilah untuk selalu bahagia
Tak perlu sesali perpisahan ini
Kar’na kita satu dalam janji abadi
Jabat erat kedua tanganku
Dan relakanlah kepergianku
Hapus berlian disudut matamu
“tersenyumlah atas indah kenangan dulu”
Ciumlah wangi kasturi aroma surga
Dengarlah syahdu merdu lokananta
Oh.. sungguh menawan, mempesona
Anku ingin segera kesana
Tengoklah sebentar kearah sana
Malaikat-malaikat yang bahagia
Tersenyum ia dengan cahaya
Oh indahnya, bila kan bersama
Berbahagialah engkau, tiada duka
Hanya karena terlalu cinta
Perlihatkanlah wajah cantiknya
Hapuslah berai air matamu
Ada duka, ada tawa
Berpuluh tahun kita lalui
Terkadang benci diantara cinta
Begitulah kita, kau dan aku
Genggam jemariku
Saatku kini harus kembali
Kecup keningku
Untuk terakhir kali
Hayati dan rasakan
Desah nafas penghabisan
Selamat tinggal kekasih
Jangan pernah kau bersedih
26 januari 2001
23.50 WIB
Valentine, diantara Pro dan Kontra (02)
>> Jumat, 13 Februari 2009
“Selamat pagi istriku. Selamat hari kasih sayang, istriku yang cantik. Dengan keagungan tiga nama Dzat Pemilik Alam semesta, aku berdoa Semoga benih masa depan dari Rahman-ku, yang telah aku sampaikan kepada Rahiim-mu Kelak menjadi manusia yang Sholeh, bijaksana dan adil. Semoga ditinggikan Allah dengan ilmu dan kasih sayang.” Begitulah, Pagi tadi saat bangun tidur, aku katakan kepada istriku yang sedang mengandung anakku, benih dari Allah yang selama ini berada padaku, sekarang telah tumbuh didalam Rahiim istriku.
Aku berpendapat bahwa perayaan tanggal 14 Februari atau perayaan hari kasih sayang memang kita perlukan, bukankan dalam kehidupan kita sehari-hari kita mengalami suka-duka, terkadang terbersit emosi dan pertengkaran yang sebenarnya tak kita inginkan. Begitulah pendapatku, aku tidak menolak adanya perayaan valentine sebagai hari kasih sayang. Sebatas itu sebagai perayaan hari kasih sayang, sebagai hari pengingat bahwa kita mempunyai kasih sayang yang harus kita ungkapkan kepada orang yang kita sayangi. Bukan untuk memperingati kisah pendeta St. Valentine yang mengharu biru itu.
Aku menghargai pendapat orang yang tidak setuju mengenai perayaan hari kasih sayang. Tapi sejujurnya aku cukup kecewa dengan sebagaian dari kita yang memaksakan pendapatnya agar peringatan hari kasih sayang (valentine day) itu dilarang dan diharamkan. Dengan berbagai alasan dan juga menukil ayat dari kitab suci, untuk memperkuat pendapatnya. Mereka berpendapat bahwa perayaan Valentine’s Day merupakan budaya Kristen dan Barat sehingga kita tidak patut mengikuti dan perayaan Valentine’s Day hanya mengajarkan nilai-nilai tidak bermoral kepada generasi muda Indonesia..
Pola pikir seperti itu jelas keliru. Di negara seperti Amerika Serikat, misalnya, perayaan Valentine’s Day tidak melulu soal pacaran. Perayaan Valentine’s Day juga dinikmati oleh pasangan suami-istri untuk saling memberikan rasa cinta mereka. Perayaan Valentine’s Day juga bisa digunakan sebagai media yang tepat bagi seorang anak untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada kedua orang tuanya. Saya percaya bahwa perayaan Valentine’s Day memiliki makna yang lebih dalam dari pada hanya memberikan coklat atau bunga kepada pacar. (dikutip dari sini).
Apakah Valentine’s Day bertentangan dengan ajaran Islam ?
Bagaimana sebaiknya kaum Muslim menanggapi perayaan Valentine’s Day? Kalangan Muslim yang tidak mendukung perayaan Valentine’s Day menggunakan berbagai macam alasan untuk menjelaskan mengapa perayaan Valentine’s Day sebaiknya ditinggalkan. Dari sekian banyak alasan yang biasanya diungkapkan, kata bid’ah sering kali dimunculkan. Bid’ah di dalam ajaran Islam memiliki pengertian sebagai perkara yang diada-adakan dalam agama. Beberapa pihak yang tidak setuju dengan Valentine’s Day berpendapat bahwa karena tidak ada yang namanya perayaan Valentine’s Day di jaman Nabi Muhammad maka perayaan Valentine’s Day saat ini adalah sebuah tindakan yang diada-adakan. Kalau analisanya seperti itu, lalu apakah kita juga tidak boleh menggunakan Telepon, Sepeda motor ataupun internet? Bukankah di jaman Nabi semua itu juga belum ada? Perdebatan mengenai apakah perayaan Valentine’s Day adalah sebuah bid’ah atau bukan tidak pada tempatnya.
Sebaiknya kita tidak menjadi umat yang tertutup dan menutup diri
Kita sebagai umat Islam seharusnya dengan bijak menyadari, bahwa apabila ajaran dan faham Agama Islam ingin lebih diterima oleh semua generasi dan semua golongan, selayaknyalah kita lebih bijaksana. Karena Islam tidak bukanlah Arab, Islam bukanlah budaya, tetapi sebuah ajaran yang Maha Mulia. Islam diturunkan sebagai agama universal yang rahmatan lil 'alamin. Kedatangan Islam bukan untuk menyengsarakan umat manusia. Sebaliknya, Islam datang agar manusia mampu menikmati dan merasakan rasa cinta dan kasih sayang sesamanya. Bahkan lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya sebatas kepada manusia, Islam menyuruh untuk menebar kasih sayang kepada semua makhluk, termasuk hewan dan binatang.
Namun demikian tidak benar bila kemudian kita membenci dan memusuhi orang yang merayakan Valentine. Mereka tetap saudara kita sebangsa dan setanah air. Kehidupan harmonis yang saling menghormati harus tetap dijaga. Tidak ada salahnya kita tersenyum dan bertegur sapa kepada mereka, sepanjang dalam batas kewajaran saja. Akan lebih baik kalau kita mampu memberikan informasi yang sebenarnya perihal Valentine Day. Karena masih banyak remaja kita yang suka ikut-ikutan, tanpa mengetahui arti di balik perbuatan yang mereka kerjakan. Dan tugas kita bersama barangkali memberikan informasi yang seimbang kepada mereka agar mereka bisa memutuskan mana yang logis dan mana yang tidak rasional.
Jika kita mendalami dan menelusuri Islam lebih dalam, maka kita akan mendapati “kasih sayang sebagai kunci utama” ajaran Islam untuk manusia. Tidak percaya…??
Coba kita lihat…
Selama ini aku medapat bekal ilmu dari orang tua dan guru, entah kita sadari atau tidak, bahwa setiap apa yang akan kita lakukan, sebaiknyalah kita mengucapkan “Bismillaahirrahmaanirrahiim”. Sedangkan kita tahu bahwa dari 114 Surat dalam Al Qur’an, semuanya diawali dengan kalimat itu, kecuali satu.
Marilah kita jadikan tanggal 14 Februari sebagai alarm/pengingat, ucapkan "Selamat Hari Kasih Sayang" kepada semua makhluq Allah.Dengan cara-cara yang Islami.
Selamat Hari Kasih Sayang, Istriku...
`
Selamat pagi istriku
Selamat hari kasih sayang, istriku yang cantik..
Demi tiga nama Allah, aku berdoa
Semoga benih masa depan dari Rahman-ku, yang telah aku sampaikan kepada Rahiim-mu
Kelak menjadi manusia yang Sholeh, bijaksana dan adil.
Semoga ditinggikan Allah dengan ilmu dan kasih sayang.
Kepada Amey,
Istriku di alam sadar dan di alam bawah sadar'ku
SRIWIJAYA, Riwayat Masa Lampau
>> Kamis, 12 Februari 2009
Dagpo Rinpoche yang sekarang, dikenali oleh H.H. Dalai Lama ke-13 sebagai reinkarnasi dari Dagpo Lama Rinpoche Jhampel Lhundrup. Dagpo Rinpoche terdahulu ini sebelumnya sudah dikenali sebagai reinkarnasi seorang mahaguru yang berasal dari Indonesia yang bernama Suvarnadvipa Dharmakirti (Serlingpa). Suvarnadvipa terlahir dalam keluarga Sri-Vijayendra-raja (Raja Sriwijaya), yang juga merupakan bagian dari keluarga Sailendravamsa (Dinasti Sailendra di Yavadvipa), karena Sri-Maharaja Balaputradewa (Raja Sriwijaya) adalah putra dari Sri-Maharaja Smaratungga (Raja Sailendra). Wangsa Sailendra-lah yang membangun Candi Borobudur.
Keluarga leluhur Rinpoche juga berperan dalam Perguruan Tinggi agama Buddha Nalanda, yang berkembang pada masa pemerintahan kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Suvarnadvipa kemudian menjadi bhiksu dengan nama ordinasi Dharmakirti. Beliau melatih diri di berbagai tempat, termasuk juga belajar ke India. Berkat usahanya yang keras dan himpunan kebajikannya yang sangat banyak, akhirnya beliau berhasil mencapai realisasi tertinggi sebagai seorang Bodhisattva. Kemasyuran beliau sebagai seorang guru Mahayana, khususnya ajaran Bodhicitta tersebar jauh hingga ke India, Cina, serta Tibet. Di Tibet beliau dikenal dengan nama Lama Serlingpa.
Atisha menempuh perjalanan selama 13 bulan melalui laut dari India, dengan kondisi yang sangat sulit, untuk bertemu dengan Suvarnadvipa di Indonesia, untuk mendapatkan instruksi tentang Bodhicitta (Tekad mencapai Kebuddhaan demi kebaikan semua makhluk) dari beliau. Suvarnadvipa memberikan transmisi ajaran yang silsilahnya berasal dari Maitreya, yaitu “Tujuh Poin Instruksi untuk Membangkitkan Bodhicitta”, juga memberikan transmisi ajaran yang berasal dari Manjushri, yaitu “Menukar Diri Sendiri dengan Makhluk Lain” (Exchanging Self and Others).
Setelah belajar dari Suvarnadvipa, Atisha kembali ke India dan kemudian diundang ke Tibet. Di sana Atisha memainkan peranan yang sangat penting untuk membawa pembaharuan bagi agama Buddha. Atisha menjadi salah satu mahaguru yang sangat dihormati dalam agama Buddha Tibet. Kedua guru besar ini, Suvarnadvipa dan Atisha bertemu kembali dalam masa sekarang dalam hubungan guru-murid yang sama, yaitu ketika Atisha terlahir kembali sebagai Pabongka Rinpoche dan menerima ajaran tentang Bodhicitta dari Dagpo Lama Rinpoche Jhampel Lhundrup.
Dagpo Lama Rinpoche Jamphel Lhundrup ini memiliki peranan yang sangat penting bagi Buddhisme Tibet dengan menghidupkan kembali ajaran Lamrim di bagian Selatan Tibet. Beliau sangat terkenal atas penjelasannya tentang Lamrim dan realisasi beliau akan Bodhicitta. Banyak guru Lamrim pada masa itu yang mendapatkan transmisi dan penjelasan Lamrim dari beliau sehingga mendapatkan realisasi atas ajaran Lamrim tersebut.
Silsilah kelahiran kembali Dagpo Rinpoche lainnya sangat banyak. Termasuk guru-guru besar seperti Bodhisattva Sadaprarudita (Taktungu) yang hidup pada masa Buddha terdahulu. Beliau rela menjual sepotong dagingnya untuk memberi persembahan kepada gurunya. Selain itu yogi India bernama Virupa dan cendekiawan Gunaprabha juga diyakini adalah inkarnasi Rinpoche.
Di Tibet sendiri, guru-guru yang termasuk dalam silisilah reinkarnasi Dagpo Rinpoche antara lain adalah Marpa Lotsawa, Sang Penerjemah, yang mendirikan sekte Buddhis Kagyu. Beliau menjadi terkenal karena menjadi guru yang membimbing Jetsun Milarepa mencapai pencerahan dengan latihan yang sangat keras. Selain itu juga Longdoel Lama Rinpoche, guru meditasi dan cendikiawan yang penting pada abad ke-18, siswa dari Dalai Lama ke-7. Seperti juga Milarepa, Longdoel Rinpoche juga mempunyai masa muda yang sulit. Beliau menjadi salah satu guru terkemuka pada abad tersebut, guru dari para cendekiawan, diantaranya Jigmey Wangpo. Beliau juga menyusun risalah sebanyak 23 jilid. Pada masa kini, sejumlah Kepala Vihara Dagpo Shedrup Ling juga termasuk dalam reinkarnasi Rinpoche sebelumnya.
Pada abad ke 7 hingga 13 M, Sriwijaya mengalami zaman keemasan. Sebagai kerajaan maritim, namanya dikenal hingga ke mancanegara. Kekuatan maritim dapat dilacak dari peninggalan kemudi kapal Sriwijaya yang ditemukan di Sungai Buah, Palembang, pada 1960-an. Kemudi yang terbuat dari kayu onglen hitam itu panjangnya mencapai delapan meter. Tak heran kalau armada kapal milik Sriwijaya mampu berlayar ke China dengan membawa komoditas perkebunan, seperti cengkeh, pala, lada, timah, rempah-rempah, emas, dan perak. Barang-barang itu dibeli atau ditukar dengan porselin, kain katun, atau kain sutra.
Pada masa kegemilangannya, banyak pendatang dari mancanegara singgah ke Sriwijaya sekadar untuk tetirah atau berniaga. Beragam jenis kapal bertambat di pelabuhan Sungai Musi. Mereka juga bermukim di kerajaan yang dulunya menjadi pusat pendidikan ajaran Budha dan ilmu pengetahuan. Beberapa bangsawan dan orang kebanyakan menikah dengan pendatang dari China. Tak heran kini mayoritas orang Palembang kebanyakan berkulit kuning langsat dan bermata sipit. Apabila para bangsawan Sriwijaya tak dibantai habis pasukan Majapahit, kemungkinan mereka adalah keturunannya. Nasib ribuan pendeta Budha juga tak jelas hingga kini. Apakah mereka dihabisi pasukan Majapahit atau menyingkir ke Tanah Jawa, Thailand, China, dan India? Atau mereka harus berganti agama kala Islam masuk ke bekas kerajaan Sriwijaya? Tapi yang jelas, sebagian dari mereka adalah keturunan para pedagang China, dan juga para bajak laut asal China yang menguasai jalur sungai dan laut selama 200 tahun amanya,usai Sriwijaya hancur lebur diserbu Majapahit. Keganasan para perompak itu berakhir setelah Panglima Perang Chengho yang diutus penguasa China datang dan memerangi mereka.
Sebagian perompak yang selamat dari serbuan Chengho, lalu alih usaha di daratan, beranak pinak, dan membentuk koloni tersendiri. Mereka memutus tradisi dan nilai-nilai yang berkembang di tanah leluhur bangsa China, dan
sebaliknya menanamkan kehidupan khas perompak yang berangasan. Sebuah tugu prasasti di Kampung Kapiten, Kelurahan Tujuh Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, menunjukkan pemujaan kepada Dewa Samudra, sebagai peringatan adanya komunitas China yang menetap di Palembang. Adakah kaitan antara mereka dan ‘Preman Palembang’ yang kini tersohor itu? Sepertinya perlu ada penelitian yang lebih mendalam. Kalau di Palembang ada Kampung Jawa, bisa jadi mereka adalah keturunan pasukan Majapahit yang menetap disana.
Secuil peninggalan berbentuk benda mati seperti arca kini masih bisa Anda simak di Museum Bala Putradewa, Palembang, Sumatra Selatan. Tercatat ada 2 museum lagi di Palembang, yaitu Museum Situs Taman Purbakala Sriwijaya (TPKS) dan Museum Sultan Badaruddin II, namun semuanya tak terawat dengan baik. Perlu ada upaya pemerintah untuk menyatukan ketiganya, dan menamai museum itu ‘Museum Sriwijaya’.
Sejak penjajahan Belanda hingga kini, sisa-sisa kejayaan Sriwijaya berupa barang antik telah pindah tangan ke luar negeri. Palembang, Jambi, dan Lampung adalah padang perburuan bagi kolektor dan pedagang barang antik. Kini tak lagi tersisa.
Dimanakah pusat Kerajaan Sriwijaya?
Itulah pertanyaan yang hingga kini masih menggantung, karena belum juga ditemukan peninggalan istana atau kraton. Kemungkinan besar pada saat penyerbuan pasukan Majapahit, istana tersebut dibumi hanguskan. Sejumlah manuskrip dan prasasti tentang kerajaan Sriwijaya juga banyak yang telah rusak, hilang, atau masih terkubur dalam tanah. Ketidak lengkapan temuan arkeologis tersebut menyebabkan para peneliti kesulitan menyusun sejarah kemunculan dan pertumbuhan Kerajaan Sriwijaya secara lengkap dan runtut.
Sejarah Sriwijaya justru banyak disusun berdasarkan berita-berita dari pengelana asing, seperti dari China, India atau Arab. Setidaknya ada 18 situs dari masa Sriwijaya di Palembang. Empat situs diantaranya memiliki penanggalan sekitar abad ke-7 sampai ke-9, yaitu situs Candi Angsoka, prasasti Kedukan Bukit, situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa. Beberapa prasasti juga telah ditemukan, yang isinya menceritakan keberadaan Sriwijaya dan kutukan bagi para pembangkang. Beberapa peninggalan Sriwijaya juga ditemukan di Jambi, Lampung, Riau, dan Thailand.
Kebesaran Sriwijaya juga terlacak dari peninggalan di India dan Jawa. Prasasti Dewapaladewa dari Nalanda, India, abad ke-9 Masehi menyebutkan, Raja Balaputradewa dari Swarnadipa (Sriwijaya) membuat sebuah biara. Prasasti Rajaraja I tahun 1046 mengisahkan pula, Raja Kataha dan Sriwiyasa Marajayayottunggawarman dari Sriwijaya menghibahkan satu wilayah desa pembangunan biara Cudamaniwarna di kota Nagipattana. India. Manuskrip sejarah, seperti Kitab Sejarah Dinasti Song dan Dinasti Ming, berada di China. Raja Sriwijaya juga mendukung penuh pembangunan Candi Borobudur di Pulau Jawa yang terbuat dari batu gunung. Sedangkan candi-candi peninggalan Sriwijaya di Sumatra semuanya terbuat dari batu bata yang cepat aus dimakan zaman. Kenapa? Karena lokasinya jauh dari gunung.
Kabar terakhir datang dari Malaysia. Raimy Che-Ross, peneliti Malaysia, pada tahun lalu menemukan sebuah kota yang hilang di pedalaman Johor. Rahasia itu terkuak berawal dari sebuah naskah kuno milik Stamford Raffles. Ia memperkirakan reruntuhan puing itu berasal dari kota Gelanggi yang pada 1025 M diserbu pasukan Chola dari India Selatan pimpinan Raja Rajendra Cholavarman.
Kota itu dulunya terkait erat dengan Kerajaan Sriwijaya. Pada 1612, Tun Seri Lanang, bendahara Royal Court di Johor, menyebut kota Gelanggi yang hilang sebagai Perbendaharaan Permata (Treasury of Jewels). Sebagai catatan, pasukan Cola bergabung dengan Kerajaan Majapahit untuk menyerbu Sriwijaya pada 1377 hingga ludes. Palembang pun lalu jadi kota mati, dan tak lama kemudian dikuasai para perompak dari China. Para bajak laut itu digempur pasukan China pimpinan Chengho, armada Majapahit dengan
dukungan Raja Aditiawarman dari Kerajaan Melayu.
Sriwijaya telah hilang ditelan zaman.
Menurut budayawan dan ketua Dewan Kesenian Sumatra Selatan (DKSS) Djohan Hanifah kepada Kompas, kebesaran Sriwijaya benar-benar terputus oleh kekuasaan Kerajaan Palembang Darussalam dan Belanda, yang membangun budaya jauh berbeda. “Beberapa candi dan peninggalan Sriwijaya sempat dihancurkan dan dikubur dalam tanah dengan alasan teologis. Estetika, ilmu pengetahuan, dan seni yang berkembang pada masa Sriwijaya tak lagi tumbuh pada masa berikutnya sampai sekarang,” ujarnya.
Kebesaran Sriwijaya memang benar-benar telah hilang dimakan nafsu para penjarah, perselingkuhan politik kekuasaan, penyebaran agama baru, dan lalu musnah ditelan zaman. Kota Palembang yang kini kian metropolis dan hingar bingar membuat peninggalan masa lalu jadi bertambah kesepian. Pertanyaan penting: Masih adakah spirit untuk membangkitkan kembali kebesaran masa lalu di hati sanubari masyarakat Sumatra Selatan, khususnya penduduk Palembang? Walahualam.
Wangsa Syailendra pada saat berkuasa, juga mengadakan hubungan yang erat dengan kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812), puteranya, Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri raja Sriwijaya. Prasasti yang ditemukan tidak jauh dari Candi Kalasan memberikan penjelasan bahwa candi tersebut dibangun untuk menghormati Tara sebagai Bodhisattva wanita. Pada tahun 790, Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahun.
Candi Borobudur selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Smaratungga (812-833). Borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di dunia, dan kini menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Smaratungga memiliki puteri bernama Pramodhawardhani dan dari hasil pernikahannya dengan Dewi Tara, putera bernama Balaputradewa.
Daftar raja-raja wangsa Syailendra
- Bhanu (752-775), raja pertama dan pendiri Wangsa Syailendra
- Wisnu (775-782), Candi Borobudur mulai dibangun
- Indra (782-812), menyerang dan mengalahkan Kerajaan Chenla (Kamboja), serta mendudukinya selama 12 tahun
- Samaratungga (812-833), Candi Borobudur selesai dibangun
- Pramodhawardhani (833-856), menikah dengan Rakai Pikatan, pangeran Wangsa Sanjaya
- Balaputradewa (833-850), melarikan diri ke Sriwijaya setelah dikalahkan Rakai Pikatan
Daftar raja-raja wangsa Sanjaya
- Sanna
- Sanjaya (732-760)
- Rakai Panangkaran (760-780)
- Rakai Panunggalan (780-800)
- Rakai Warak (800-819)
- Rakai Garung (819-838)
- Rakai Pikatan (838-856)
- Rakai Kayuwangi (856-886)
- Rakai Watuhumalang (886-898)
- Dyah Balitung (898-910)
- Daksa (910-919)
- Tulodong (919-924)
- Dyah Wawa (924-928)
- Mpu Sindok (928-929)
Runtuhnya Wangsa Syailendra
Pramodhawardhani, puteri raja Samaratungga menikah dengan Rakai Pikatan, yang waktu itu menjadi pangeran Wangsa Sanjaya. Sejak itu pengaruh Sanjaya yang bercorak Hindu mulai dominan di Mataram, menggantikan agama Buddha. Rakai Pikatan bahkan menyerang Balaputradewa, yang merupakan saudara Pramodhawardhani. Sejarah Wangsa Syailendra berakhir pada tahun 850, yaitu ketika Balaputradewa melarikan diri ke Sriwijaya yang merupakan negeri asal ibunya.

Isi Prasasti
Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 604 Saka (682 M) dan merupakan prasasti berangka tahun yang tertua di Indonesia. Terdiri atas sepuluh baris, tertulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, masing-masing baris berbunyi sebagai berikut:
- Swasti, sri. Sakawarsatita 604 ekadasi su-
- klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyang naik di
- samwau mangalap siddhayatra. Di saptami suklapaksa
- wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga
- tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan kosa
- dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu
- telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang
- sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada
- laghu mudita datang marwuat wanua
- Sriwijaya jayasiddhayatra subhiksa
Terjemahan dalam bahasa Indonesia modern:
- Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 604 hari kesebelas
- paroterang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di
- perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang
- bulan Jesta Dapunta Hyang berlepas dari Minanga
- tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan
- dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu
- tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang
- sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada
- lega gembira datang membuat wanua
- Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna
Prasasti Kedukan Bukit menguraikan jayasiddhayatra (perjalanan jaya) dari penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang (Yang Dipertuan Hyang). Oleh karena Dapunta Hyang membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan, sudah tentu perjalanan itu bukanlah piknik, melainkan ekspedisi militer menaklukkan suatu daerah. Dari prasasti Kedukan Bukit, kita mendapatkan data-data:
- Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682). Tidak ada keterangan dari mana naik perahu dan mau ke mana.
- Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara. Rombongan lalu tiba di Muka Upang (sampai kini masih ada desa Upang di tepi Sungai Musi, sebelah timur Palembang).
- Dapunta Hyang membuat ‘wanua’ tanggal 5 Asada (16 Juni). (Penyesuaian tarikh Saka ke tarikh Masehi diambil dari Louis-Charles Damais, “Etude d’Epigraphie Indonesienne III: Liste des Principales Datees de l’Indonesie”, BEFEO, tome 46, 1952).
Prasasti Kedukan Bukit hanya menyebutkan gelar Dapunta Hyang tanpa disertai nama raja tersebut. Dalam prasasti Talang Tuwo yang dipahat tahun 606 Saka (684 M) disebutkan bahwa raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa menitahkan pembuatan Taman Sriksetra tanggal 2 Caitra 606 (23 Maret 684). Besar kemungkinan dialah raja Sriwijaya yang dimaksudkan dalam prasasti Kedukan Bukit.
Timbul setumpuk pertanyaan: Di manakah letak Minanga? Benarkah Minanga merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya, ataukah hanya daerah taklukan Sriwijaya? Apakah arti kalimat ‘marwuat wanua’? Benarkah kalimat itu menyatakan pembangunan sebuah kota seperti pendapat banyak ahli sejarah? Benarkah peristiwa itu merupakan pembuatan ibukota atau perpindahan ibukota Sriwijaya? Demikianlah prasasti Kedukan Bukit mengandung banyak persoalan yang tidak sederhana. “This text has caused much ink to flow” kata Prof. Dr. George Coedes dalam bukunya, The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1968, h. 82.
Beberapa Tafsiran
Pada tahun 1975 Departemen P dan K menerbitkan enam jilid buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditetapkan sebagai buku standar bagi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Jilid II membahas Zaman Kuna, disusun oleh Ayatrohaedi, Edi Sedyawati, Edhie Wuryantoro, Hasan Djafar, Oei Soan Nio, Soekarto K. Atmojo dan Suyatmi Satari, dengan editor Bambang Sumadio. Tafsiran mereka terhadap isi prasasti Kedukan Bukit adalah sebagai berikut: Dapunta Hyang memulai perjalanan dari Minanga Tamwan, kemudian mendirikan kota yang diberi nama Sriwijaya. Mungkin sekali pusat Sriwijaya terletak di Minanga Tamwan itulah, daerah pertemuan sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri (Sejarah Nasional Indonesia, II, Balai Pustaka, Jakarta, 1977, h. 53).
Dr. Buchari, ahli epigrafi terkemuka, dalam tulisannya “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979, hh. 26-28, memberikan penafsiran yang berbeda: Pada mulanya Kerajaan Sriwijaya berpusat di Minanga yang terletak di Batang Kuantan, di tepi Sungai Inderagiri, dengan alasan minanga = muara = kuala = kuantan. Lalu pada tahun 682 Dapunta Hyang menyerang Palembang dan membuat kota yang kemudian dijadikan ibukota kerajaannya yang baru. Jadi pada tahun 682 terjadi perpindahan ibukota Sriwijaya dari Minanga ke Palembang.
Dr. Slametmulyana, ahli filologi ternama, dalam bukunya Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Idayu, Jakarta, 1981, hh. 73-74, berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya selamanya beribukota di Palembang dan tidak pernah berpindah-pindah. Isi prasasti Kedukan Bukit tidak ada hubungannya dengan pembuatan kota Sriwijaya, dan Minanga yang disebutkan dalam prasasti itu hanyalah sebuah daerah taklukan Sriwijaya. Slametmulyana melokasikan Minanga di Binanga, yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur.
Thanks buat Narasumber

